Gempa dangkal pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, memicu peringatan dini tsunami di tiga provinsi dan membangkitkan kembali trauma kolektif bencana Flores 1992. Peta ini memetakan episenter, sebaran korban, tinggi muka air laut yang terekam, dan posko penanganan darurat.
Ketuk atau arahkan kursor ke setiap titik untuk melihat rinciannya. Gunakan tombol di bawah untuk berpindah lapisan data.
Geser peta ke samping untuk melihat seluruh wilayah
Flores diapit dua sumber gempa. Di selatan ada zona subduksi tempat Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Busur Sunda-Banda. Di utara ada Flores Back-Arc Thrust, sesar naik busur belakang yang menyerap sebagian tekanan tumbukan. Gempa 15 Agustus bersumber dari sesar naik di utara ini, pada kedalaman hanya 15 kilometer, sehingga guncangannya terasa keras dan berpotensi mengangkat kolom air laut.
Peringatan dini sempat memasang status Siaga dengan model ketinggian 0,5 hingga 3 meter, lalu dicabut pukul 07.30 WIB. Stasiun pasang surut BMKG akhirnya merekam gelombang yang jauh lebih rendah, tersebar sampai pesisir Sulawesi. Angka di bawah adalah tinggi maksimum yang terekam, bukan hasil model.
Baubau dan Kolaka berada di Sulawesi Tenggara, bukan Sulawesi Selatan seperti tertulis di draf. Hanya Bulukumba yang masuk Sulawesi Selatan.
BMKG menyebut busur belakang Flores menyimpan potensi gempa maksimum M7,8 hingga M7,9. Pelepasan energi besar terakhir terjadi pada 1992. Perbandingan ini menjelaskan kenapa ribuan warga Maumere memilih bertahan di pengungsian meski peringatan tsunami sudah dicabut.
Titik berat kerusakan bergeser. Pada 1992 pesisir utara Sikka dan Flores Timur yang hancur oleh gelombang. Kali ini korban justru terkonsentrasi di wilayah pegunungan Manggarai dan Manggarai Timur, di mana bangunan runtuh dan longsoran, bukan air laut, yang menjadi penyebab utama.
Rumah dan fasilitas umum terdampak
Distribusi paket sembako tahap pertama
Dari 50.000 paket yang dikirim pemerintah pusat, 4.925 paket sudah tiba dan masuk tahap distribusi lewat Posko Labuan Bajo (3.200 paket) dan Posko Maumere (1.725 paket).
1. Magnitudo di draf tidak konsisten. Ringkasan draf menyebut M7,2, badan berita menyebut M7,7. Parameter resmi terakhir BMKG adalah M7,7 pada kedalaman 15 km. Angka M7,6 dan M7,0 muncul di rilis awal sebelum pemutakhiran. Samakan seluruh naskah ke M7,7 dan sebut riwayat pemutakhirannya sekali saja.
2. Rincian korban luka tidak menjumlah ke total. Total resmi 135 jiwa, tetapi rincian di draf (Sikka 12, Manggarai 37, Manggarai Timur 72, Manggarai Barat 6) hanya berjumlah 127. Selisih 8 jiwa belum jelas dari kabupaten mana. Konfirmasi ke BNPB atau tampilkan hanya totalnya.
3. Jam kejadian bercampur zona waktu. BMKG merilis 04.58 WIB, yang sama dengan 05.58 WITA di lokasi. Draf menulis 05.58 WITA di satu tempat dan mengutip BMKG dengan jam WIB di tempat lain. Pilih satu zona waktu untuk seluruh artikel, sebaiknya WITA karena ini waktu setempat.
4. Data rumah rusak bergerak turun. Per 15 Agustus pukul 17.00 BNPB mencatat 157 rusak berat, 41 sedang, 148 ringan. Per 16 Agustus angkanya 154, 49, dan 38. Penurunan drastis pada kategori ringan menandakan proses verifikasi ulang, bukan perbaikan. Beri keterangan waktu di setiap angka.
5. Kalimat kutipan warga tertanggal 15/8/25. Kemungkinan salah ketik untuk 15/8/26.
Sumber data: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (parameter gempa, peringatan dini tsunami, rekaman stasiun pasang surut, hitungan gempa susulan); Badan Nasional Penanggulangan Bencana (korban jiwa, korban luka, kerusakan, posko, logistik, status tanggap darurat); Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (kerusakan fasilitas umum); pelaporan lapangan Mongabay Indonesia di Maumere dan Sikka.
Peta dasar: Natural Earth 1:10m, domain publik. Batas daratan disederhanakan untuk keperluan tampilan.